Pengertian TAQWÂ (Takwa)

Secara etimologis kata ini merupakan bentuk masdar dari kata ittaqâ–yattaqiy (اتَّقَى- يَتَّقِىْ), yang berarti “menjaga diri dari segala yang membahayakan”. Sementara pakar berpendapat bahwa kata ini lebih tepat diterjemahkan dengan “berjaga-jaga atau melindungi diri dari sesuatu”. Kata taqwa dengan pengertian ini dipergunakan di dalam al-Quran, misalnya pada QS. Al-Mu’min [40]: 45 dan Ath-Thûr [52]: 27. Kata ini berasal dari kata waqâ–yaqi–wiqayah (وَقَى- يَقِى- وِقَايَة), yang berarti “menjaga diri, menghindari, dan menjauhi”, yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakakan. Penggunaan bentuk kata kerja waqâ (وَقَى) dapat dilihat antara lain dalam QS. Al-Insân [76]: 11, Ad-Dukhân [44]: 56, dan Ath-Thûr [52]: 28. Penggunaan bentuk ittaqâ(اِتَّقَى) dapat dilihat antara lain di dalam QS. Al-A‘râf [7]: 96. Kata taqwâ (تَقْوَى) juga bersinonim dengan kata khaûf (خَوْف) dan khasyyah (خَشْيَة) yang berarti “takut”. Bahkan, kata ini mempunyai pengertian yang hampir sama dengan kata taat. Kata taqwâ yang dihubungkan dengan kata thâ‘ah (طَاعَة) dan khasyyah (خَشْيَة) digunakan al-Quran dalam QS. An-Nûr [24]: 52.

Dalam istilah syar‘i (hukum), kata taqwâ mengandung pengertian “menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan meninggalkan segala yang dilarang Allah Swt. dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya”.

Di dalam al-Quran kata ini disebut 258 kali dalam berbagai bentuk dan dalam konteks yang bermacam-macam. Kata ini dalam bentuk kata kerja lampau (fi‘l mâdhi) ditemukan sebanyak 27 kali, yaitu dengan bentuk ittaqâ (اِتَّقَى) sebanyak 7 kali, antara lain dalam QS. Al-Baqarah [2]: 189; dalam bentuk ittaqaw (اِتَّقَوْا) sebanyak 19 kali, seperti dalam QS. Al-Mâ’idah [5]: 93; dan dalam bentuk ittaqaytunna (اِتَّقَيْتُنَّ) hanya satu kali, ditemukan dalam QS. Al-Ahzâb [33]: 32. Dalam bentuk-bentuk seperti di atas, kata taqwâ pada umumnya memberi gambaran mengenai keadaan, sifat-sifat, dan ganjaran bagi orang-orang bertakwa. Kata taqwâ yang diungkapkan dalam bentuk kata kerja masa sekarang (fi‘l mudhâri‘) ditemukan sebanyak 54 kali. Dalam bentuk ini, Al-Quran menggunakan kata itu untuk: (1) menerangkan berbagai ganjaran, kemenangan, dan pahala yang diberikan kepada orang yang bertakwa, seperti dalam QS. Ath-Thalâq [65]: 5; (2) menerangkan keadaan atau sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seseorang sehingga ia diharapkan dapat mencapai tingkat takwa, yang diungkapkan bentuk la‘allakum tattaqûn (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُـوْنَ = semoga engkau bertakwa), seperti dalam QS. Al-Baqarah [2]: 183; dan (3) menerangkan ancaman dan peringatan bagi orang-orang yang tidak bertakwa, seperti dalam QS. Al-Mu’minûn [23]: 32.

Kata taqwâ yang dinyatakan dalam kalimat perintah ditemukan sebanyak 86 kali, 78 kali di antaranya mengenai perintah untuk bertakwa yang ditujukan kepada manusia secara umum. Obyek takwa dalam ayat-ayat yang menyatakan perintah takwa tersebut bervariasi, yaitu: (1) Allah sebagai obyek ditemukan sebanyak 56 kali, misalnya pada QS. Al-Baqarah [2]: 231 dan Asy-Syu‘arâ’ [26]: 131; (2) Neraka sebagai obyeknya dijumpai sebanyak 2 kali, yaitu pada QS. Al-Baqarah [2]: 24 dan آli ‘Imrân [3]: 131; (3) Fitnah/siksaan sebagai obyek takwa didapati satu kali, yaitu pada QS. Al-Anfâl [8]: 25; (4) Obyeknya berupa kata-kata rabbakum (رَبَّكُمْ), al-ladzî khalaqakum (الَّذِيْ خَلَقَكُمْ), dan kata-kata lain yang semakna berulang sebanyak 15 kali, misalnya di dalam QS. Al-Hajj [22]: 1.

Dari 86 ayat yang menyatakan perintah bertakwa pada umumnya (sebanyak 82 kali) obyeknya adalah Allah, dan hanya 4 kali yang obyeknya bukan Allah melainkan neraka, hari kemudian, dan siksaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat yang berbicara mengenai takwa di dalam Al-Quran pada dasarnya yang dimaksudkan adalah ketakwaan kepada Allah Swt. Perintah itu pada dasarnya menunjukkan bahwa orang-orang yang akan terhindar dari api neraka dan siksaan hari kemudian nanti adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah Swt.

Kata taqwâ yang dinyatakan dalam bentuk mashdar, ditemukan di dalam al-Quran sebanyak 19 kali. Yang diungkapkan dalam bentuk tuqât (تُقَاة) sebanyak 2 kali dan dalam bentuk taqwâ (تَقْوَى) sebanyak 17 kali. Dalam bentuk ini kata taqwâ pada umumnya digunakan al-Quran untuk: (1) menggambarkan bahwa suatu pekerjaan yang dilakukan harus didasarkan atas ketakwaan kepada Allah Swt, seperti dalam QS. Al-Hajj [22]: 37; dan (2) menggambarkan bahwa takwa merupakan modal utama dan terbaik untuk menuju kehidupan akhirat.

Takwa kepada Allah merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan. Takwa kepada Allah, menurut Muhammad Abduh, adalah menghindari siksaan Tuhan dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarang-Nya serta mengerjakan segala yang diperintahkan-Nya. Hal ini, lanjutnya, hanya dapat terlaksana melalui rasa takut dari siksaan yang menimpa dan rasa takut kepada yang menjatuhkan siksaan, yaitu Allah. Rasa takut itu pada mulanya timbul dari keyakinan tentang adanya siksaan. Perintah dan larangan Allah dapat dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu (1) Perintah dan larangan yang berkaitan dengan alam raya, yang disebut hukum-hukum alam, seperti dinyatakan dalam QS. Fushshilat [41]: 11, misalnya api membakar atau bulan berputar mengelilingi bumi; dan (2) Perintah dan larangan yang berkaitan dengan pelaksanaan ajaran agama yang ditujukan kepada manusia, seperti perintah melakukan shalat yang dinyatakan dalam QS. Al-Isrâ’ [17]: 78. Kumpulan dari perintah dan larangan ini dinamakan hukum-hukum syariat. Sanksi pelanggaran terhadap hukum-hukum alam akan diperoleh di dunia, sedangkan sanksi pelanggaran terhadap hukum-hukum syariat akan diperoleh di akhirat. Dengan demikian, ketakwaan mempunyai dua sisi, yaitu sisi duniawi dan sisi ukhrawi. Sisi duniawi yaitu memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam, sedangkan sisi ukhrawi yakni memperhatikan dan melaksanakan hukum-hukum syariat.

Takwa sebagai upaya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya hanya dapat terwujud oleh dorongan harapan memperoleh kenikmatan surgawi serta rasa takut terjerumus ke dalam neraka. Karenanya, sebagian ulama menggambarkan takwa sebagai gabungan di antara harapan dan rasa takut.

Ketakwaan yang dinyatakan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah yang dapat disaksikan secara lahiriah merupakan perwujudan keimanan seseorang kepada Allah Swt. Iman yang terdapat di dalam dada diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah. Oleh sebab itu, kata taqwâ dalam al-Quran sering dihubungkan dengan kata îmân (الإِيْمَان), seperti dalam QS. Al-Baqarah [2]: 103, Al-A‘râf [7]: 96, آli ‘Imrân [3]: 179, Al-Anfâl [8]: 29, dan Muhammad [47]: 36.

Al-Quran menyebut orang yang bertakwa dengan muttaqî (الْمُتَّقِى), jamaknya muttaqîn (الْمُتَّقِيْنَ), yang berarti “orang yang bertakwa”. Kata tersebut disebut al-Quran sebanyak 50 kali. Kata ini digunakan al-Quran untuk (1) Menggambarkan bahwa orang-orang yang bertakwa dicintai oleh Allah Swt. dan di akhirat nanti akan diberi pahala dan tempat yang paling baik (surga), seperti yang diungkapkan dalam QS. آli ‘Imrân [3]: 76, Adz-Dzâriyât [51]: 15, dan Ad-Dukhân [44]: 51; (2) Menggambarkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang mendapat kemenangan, seperti diungkapkan dalam QS. An-Naba’ [78]: 31; (3) Menggambarkan bahwa Allah merupakan pelindung (wali) bagi orang-orang yang bertakwa, seperti diungkapkan dalam QS. Al-Jâtsiyah [45]: 19; dan (4) Menggambarkan bahwa beberapa kisah yang terjadi merupakan peringatan dan teladan bagi orang-orang yang bertakwa, seperti yang diungkapkan dalam QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 48 dan Al-Hâqqah [69]: 48.

Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci siapa yang dimaksudkan dengan istilah itu. Al-Quran hanya menyebutkan beberapa cirinya, antara lain dalam QS. Al-Baqarah [2]: 2-5. Selanjutnya, dijelaskan dalam QS. آli ‘Imrân [3]: 132-135.

Ciri-ciri orang bertakwa menunjukkan suatu kepribadian yang benar-benar utuh dan integral, sebagaimana dinyatakan di dalam QS. Al-Hujurât [49]: 13. Penggunaan kata atqâkum (أَتْقَاكُمْ) dalam ayat ini menunjukkan bahwa taqwâ mempunyai tingkatan-tingkatan. Perbedaan tingkatan tersebut sangat ditentukan oleh kualitas keimanan dan ketaatan seseorang dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.

Orang-orang bertakwa diberi berbagai kelebihan oleh Allah Swt, tidak hanya ketika mereka di akhirat nanti tetapi juga ketika mereka berada di dunia ini. Beberapa kelebihan mereka disebutkan di dalam al-Quran, antara lain: (1) Dibukakan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapinya (QS. Ath-Thalâq [65]: 2); (2) Dimudahkan segala urusannya (QS. Ath-Thalâq [65]: 4); (3) Dilimpahkan kepadanya berkah dari langit dan bumi (QS. Al-A‘râf [7]: 96); (4) Dianugerahi furqân (فُرْقَان), yakni petunjuk untuk dapat membedakan yang hak dan bathil (QS. Al-Anfâl [8]: 29; dan (5) Diampuni segala kesalahan dan dihapus segala dosanya (QS. Al-Hadîd [57]: 28 dan Al-Anfâl [8]: 29). (Hasan Zaini)
(Sumber: http://www.psq.or.id/ensiklopedia)

About these ads

Posted on 13/02/2011, in arti taqwa. Bookmark the permalink. Komentar Dimatikan.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: