Category Archives: arti taqwa

Definisi TAQWA

Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. tentang apa itu taqwa. Beliau menjelaskan bahwa taqwa itu adalah :

1. Takut (kepada Allah) yang diiringi rasa cinta, bukan takut karena adanya neraka. Read the rest of this entry

Mari Mengenal “T A Q W A”

Oleh Syaikh DR. Fadhl Ilahi

Termasuk sebab turunnya rizki adalah taqwa. Saya akan membicarakan masalah ini –dengan memohon taufiq dari Allah- dalam dua bahasan.

Pertama : Makna Taqwa
Kedua : Dalil Syar’i Bahwa Taqwa Termasuk Kunci Rizki

Pertama : Makna Taqwa

Para ulama rahimahullah telah mejelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Asfahani mendenifisikan : “Taqwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan” [Al-Mufradat Fi Gharibil Qur’an, hal 531] Read the rest of this entry

Taqwa Itu Apa?

Kalimah ‘Taqwa’ asal maknanya adalah mengambil tindakan penjagaan dan memelihara dari sesuatu yang mengganggu dan memudaratkan.

Menurut Syara’, ‘Taqwa’ bererti :

“Menjaga dan memelihara diri dari siksa dan murka Allah Ta’ala dengan jalan melaksanakan perintah-perintahNya, taat kepadaNya dan menjauhi larangan-laranganNya serta menjauhi perbuatan maksiat”.[2]

Rasulullah s.a.w. pernah menjelaskan hakikat taqwa dengan sabda baginda yang bermaksud :

“Mentaati Allah dan tidak mengingkari perintah-Nya, sentiasa mengingati Allah dan tidak melupainya, bersyukur kepada-Nya dan tidak mengkufuri nikmat-Nya”. ( Riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas rha. )

Saidina Umar r.a. pernah bertanya kepada seorang sahabat yang lain bernama Ubai bin Ka’ab r.a. makna taqwa. Lalu Ubai bertanya kepada Umar :

“Adakah engkau pernah melalui satu jalan yang berduri?

Jawab Umar: “Ya”.

Tanya Ubai lagi: “Apakah yang kamu lakukan untuk melalui jalan tersebut?”.

Jawab Umar : “Aku melangkah dengan waspada dan berhati-hati”. Balas Ubai : “Itulah yang dikatakan taqwa”.

Menurut Ibnu Abbas r.a. : “Al-Muttaqin (yakni orang-orang bertaqwa) ialah orang-orang beriman yang memelihara diri mereka dari mensyirikkan Allah dan beramal menta’atiNya”.

Menurut Hasan al-Basri : “Orang-orang bertaqwa ialah orang-orang yang memelihara diri dari melakukan perkara yang diharamkan Allah dan mengerjakan apa yang difardhukan Allah ke atas mereka”.

Berkata Abu Yazid al-Bustami : “Orang bertaqwa ialah seorang yang apabila bercakap, ia bercakap kerana Allah dan apabila ia beramal, ia beramal kerana Allah”.


Martabat Taqwa

Menurut Al-’Allamah Mustafa al-Khairi al-Manshuri, taqwa ini mempunyai tiga martabat;

Martabat pertama : Membebaskan diri dari kekufuran

Inilah yang diisyaratkan oleh Allah dengan “Kalimat at-Taqwa” dalam firmanNya :

“…lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mu’min dan Allah mewajibkan(mengurniakan dan menetapkan) kepada mereka kalimat taqwa …”. (Surah Al-Fath. Ayat : 26)

Maksud kalimah at-Taqwa dalam ayat di atas ialah kalimah : “لا إله إلا الله محمد رسول الله” atau dua kalimah syahadah. Kalimah ini merupakan kalimah iman yang menjadi asas atau punca kepada taqwa.

Martabat kedua : Menjauhkan diri dari segala perkara yang membawa kepada dosa.

Martabat ketiga : Membersihkan batin (hati) dari segala yang menyibukkan atau melalaikan diri dari Allah swt.

Martabat yang ketiga inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah;

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati melainkan kamu menyerah diri ( kepada Allah swt ).” (Surah Ali Imran : 102)

Muslim yang Berjuang dan Bertaqwa

Merentasi era peradaban modern yang menyaksikan keruntuhan akhlak , moral dan aqidah ummah kini di paras bahaya , memerlukan kuasa taqwa yang tinggi untuk kembali membina struktur asas ummat Islam yang kian runtuh .

Taqwa adalah penawar yang sebenarnya yang mampu memulihkan(dengan izin Allah ) kecederaan iman yang sangat parah dewasa kini; yang kian rancak menular khasnya kepada mereka yang mengaku muslim terutama di kalangan generasi mudanya. .

Kecederaan teruk di bahagian iman inilah yang meletakkan ummat Islam turut terjebak dalam kancah perlecehan akhlak, moral dan aqidah.

Saksikanlah, bagaimana dunia kini amnya dan negara kita khasnya dilanda kehancuran peradaban Insaniyyah, sehingga hilang peri kemanusiaan sebaliknya peri kebinatangan menguasai minda sebahagian besar ummat manusia.

Menyedari realiti dunia dan ummah hari ini, marilah kita mengambil kesempatan daripada ibadah puasa yang dijalani sebulan di bulan Ramadhan untuk membina syakhsiyyah muslim-mukmin yang bertaqwa (dan berjuang ); dengan mendidik jiwa, minda dan seluruh pancaindera agar tunduk dan patuh kepada Allah swt serta siap[mampu] untuk memikul tanggungjawab meninggikan kalimah Allah di mukabumi ini …

Kita seharusnya sibukkan diri untuk memperbaiki dan mentarbiyah diri, menambahkan ilmu yang bermanafaat , membuat persediaan-persediaan yang perlu ke arah memikul tanggungjawab sebagai pejuang untuk menyelamatkan diri serta ummah dari bahana syahwah yang menyimpang jauh dari Manhaj Ilahi ini.

Pejuang yang dikurniakan sifat TAQWA; maka takwa itulah yang menjadikan dirinya lebih hebat di “medan ” juang , menjadi sebagai benteng pelindung dan asas kekuatan diri demi memenangi pertembungan antara iman dan kufur , hak dan hatil serta Islam dan jahiliyyah-ketikamana terbukti keimanan mereka pada Kitabullah .Iaitu beriman dan melaksanakan stiap suruhan dan menjauhi larangan Allah di dalam kitabNya (Al Quran)secara keseluruhannya, bukan separuh-separuh (beriman sebahagian dan kufur sebahagian ) .Perbuatan menerima sebahagian dan menolak sebahagian (apabila tak sesuai dengan nafsu ) inilah yang menyebabkan manusia ditimpa kehinaan di dunia dan azab diakhirat .

Firman Allah Taala (ertinya ) :

“…(Sesudah itu) maka patutkah kamu hanya beriman kepada sebahagian (dari isi) al Kitab dan kamu mengingkari sebahagian yang lain? Maka tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian itu dari antara kamu, selain dari kehinaan ketika hidup di dunia, sedang pada hari kiamat mereka akan ditolak ke dalam azab seksa yang amat berat. Dan (ingatlah), Allah tidak sekali-kali lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah 2:85)

Perjuangan dan pengorbanan adalah asam garam kehidupan di dunia ini, tiada perjuangan dan pengobanan maka tiadalah hasil(yang bernilai itu).

Bilamana mereka sentiasa mengutamakan redha Allah walaupun tidak disukai oleh kebanyakan manusia, maka ketika itu Allah bersama mereka (menolong urusan mereka ).

Bukan sebaliknya iaitu mencari redha manusia tapi pada masa yang sama mengundang murka Allah SWT sehingga Allah berlepas diri dari kita dan tidak membantu kita, dan biarkan kita .- na’uzubillah min zaalik.

Allahumma nas aluka ridhaka wal Jannah, wa na’uzubika min sakhotika wan naar ; “Ya Allah,Tuhan kami , kami memohon redha dan SyurgaMu, dan kami mohon perlindungan denganMu dari Murka dan nerakaMu”. Selawat dan Salam untu kjunjungan kami Muhammad serta keluarga dan Sahabat-sahabat baginda ,dan kesejahteraanlah keatas (mereka semua ).

Sumber: http://darulharis.blogspot.com/

Pengertian TAQWÂ (Takwa)

Secara etimologis kata ini merupakan bentuk masdar dari kata ittaqâ–yattaqiy (اتَّقَى- يَتَّقِىْ), yang berarti “menjaga diri dari segala yang membahayakan”. Sementara pakar berpendapat bahwa kata ini lebih tepat diterjemahkan dengan “berjaga-jaga atau melindungi diri dari sesuatu”. Kata taqwa dengan pengertian ini dipergunakan di dalam al-Quran, misalnya pada QS. Al-Mu’min [40]: 45 dan Ath-Thûr [52]: 27. Kata ini berasal dari kata waqâ–yaqi–wiqayah (وَقَى- يَقِى- وِقَايَة), yang berarti “menjaga diri, menghindari, dan menjauhi”, yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakakan. Penggunaan bentuk kata kerja waqâ (وَقَى) dapat dilihat antara lain dalam QS. Al-Insân [76]: 11, Ad-Dukhân [44]: 56, dan Ath-Thûr [52]: 28. Penggunaan bentuk ittaqâ(اِتَّقَى) dapat dilihat antara lain di dalam QS. Al-A‘râf [7]: 96. Kata taqwâ (تَقْوَى) juga bersinonim dengan kata khaûf (خَوْف) dan khasyyah (خَشْيَة) yang berarti “takut”. Bahkan, kata ini mempunyai pengertian yang hampir sama dengan kata taat. Kata taqwâ yang dihubungkan dengan kata thâ‘ah (طَاعَة) dan khasyyah (خَشْيَة) digunakan al-Quran dalam QS. An-Nûr [24]: 52.

Dalam istilah syar‘i (hukum), kata taqwâ mengandung pengertian “menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan meninggalkan segala yang dilarang Allah Swt. dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya”.

Di dalam al-Quran kata ini disebut 258 kali dalam berbagai bentuk dan dalam konteks yang bermacam-macam. Kata ini dalam bentuk kata kerja lampau (fi‘l mâdhi) ditemukan sebanyak 27 kali, yaitu dengan bentuk ittaqâ (اِتَّقَى) sebanyak 7 kali, antara lain dalam QS. Al-Baqarah [2]: 189; dalam bentuk ittaqaw (اِتَّقَوْا) sebanyak 19 kali, seperti dalam QS. Al-Mâ’idah [5]: 93; dan dalam bentuk ittaqaytunna (اِتَّقَيْتُنَّ) hanya satu kali, ditemukan dalam QS. Al-Ahzâb [33]: 32. Dalam bentuk-bentuk seperti di atas, kata taqwâ pada umumnya memberi gambaran mengenai keadaan, sifat-sifat, dan ganjaran bagi orang-orang bertakwa. Kata taqwâ yang diungkapkan dalam bentuk kata kerja masa sekarang (fi‘l mudhâri‘) ditemukan sebanyak 54 kali. Dalam bentuk ini, Al-Quran menggunakan kata itu untuk: (1) menerangkan berbagai ganjaran, kemenangan, dan pahala yang diberikan kepada orang yang bertakwa, seperti dalam QS. Ath-Thalâq [65]: 5; (2) menerangkan keadaan atau sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seseorang sehingga ia diharapkan dapat mencapai tingkat takwa, yang diungkapkan bentuk la‘allakum tattaqûn (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُـوْنَ = semoga engkau bertakwa), seperti dalam QS. Al-Baqarah [2]: 183; dan (3) menerangkan ancaman dan peringatan bagi orang-orang yang tidak bertakwa, seperti dalam QS. Al-Mu’minûn [23]: 32.

Kata taqwâ yang dinyatakan dalam kalimat perintah ditemukan sebanyak 86 kali, 78 kali di antaranya mengenai perintah untuk bertakwa yang ditujukan kepada manusia secara umum. Obyek takwa dalam ayat-ayat yang menyatakan perintah takwa tersebut bervariasi, yaitu: (1) Allah sebagai obyek ditemukan sebanyak 56 kali, misalnya pada QS. Al-Baqarah [2]: 231 dan Asy-Syu‘arâ’ [26]: 131; (2) Neraka sebagai obyeknya dijumpai sebanyak 2 kali, yaitu pada QS. Al-Baqarah [2]: 24 dan آli ‘Imrân [3]: 131; (3) Fitnah/siksaan sebagai obyek takwa didapati satu kali, yaitu pada QS. Al-Anfâl [8]: 25; (4) Obyeknya berupa kata-kata rabbakum (رَبَّكُمْ), al-ladzî khalaqakum (الَّذِيْ خَلَقَكُمْ), dan kata-kata lain yang semakna berulang sebanyak 15 kali, misalnya di dalam QS. Al-Hajj [22]: 1.

Dari 86 ayat yang menyatakan perintah bertakwa pada umumnya (sebanyak 82 kali) obyeknya adalah Allah, dan hanya 4 kali yang obyeknya bukan Allah melainkan neraka, hari kemudian, dan siksaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat yang berbicara mengenai takwa di dalam Al-Quran pada dasarnya yang dimaksudkan adalah ketakwaan kepada Allah Swt. Perintah itu pada dasarnya menunjukkan bahwa orang-orang yang akan terhindar dari api neraka dan siksaan hari kemudian nanti adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah Swt.

Kata taqwâ yang dinyatakan dalam bentuk mashdar, ditemukan di dalam al-Quran sebanyak 19 kali. Yang diungkapkan dalam bentuk tuqât (تُقَاة) sebanyak 2 kali dan dalam bentuk taqwâ (تَقْوَى) sebanyak 17 kali. Dalam bentuk ini kata taqwâ pada umumnya digunakan al-Quran untuk: (1) menggambarkan bahwa suatu pekerjaan yang dilakukan harus didasarkan atas ketakwaan kepada Allah Swt, seperti dalam QS. Al-Hajj [22]: 37; dan (2) menggambarkan bahwa takwa merupakan modal utama dan terbaik untuk menuju kehidupan akhirat.

Takwa kepada Allah merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan. Takwa kepada Allah, menurut Muhammad Abduh, adalah menghindari siksaan Tuhan dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarang-Nya serta mengerjakan segala yang diperintahkan-Nya. Hal ini, lanjutnya, hanya dapat terlaksana melalui rasa takut dari siksaan yang menimpa dan rasa takut kepada yang menjatuhkan siksaan, yaitu Allah. Rasa takut itu pada mulanya timbul dari keyakinan tentang adanya siksaan. Perintah dan larangan Allah dapat dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu (1) Perintah dan larangan yang berkaitan dengan alam raya, yang disebut hukum-hukum alam, seperti dinyatakan dalam QS. Fushshilat [41]: 11, misalnya api membakar atau bulan berputar mengelilingi bumi; dan (2) Perintah dan larangan yang berkaitan dengan pelaksanaan ajaran agama yang ditujukan kepada manusia, seperti perintah melakukan shalat yang dinyatakan dalam QS. Al-Isrâ’ [17]: 78. Kumpulan dari perintah dan larangan ini dinamakan hukum-hukum syariat. Sanksi pelanggaran terhadap hukum-hukum alam akan diperoleh di dunia, sedangkan sanksi pelanggaran terhadap hukum-hukum syariat akan diperoleh di akhirat. Dengan demikian, ketakwaan mempunyai dua sisi, yaitu sisi duniawi dan sisi ukhrawi. Sisi duniawi yaitu memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam, sedangkan sisi ukhrawi yakni memperhatikan dan melaksanakan hukum-hukum syariat.

Takwa sebagai upaya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya hanya dapat terwujud oleh dorongan harapan memperoleh kenikmatan surgawi serta rasa takut terjerumus ke dalam neraka. Karenanya, sebagian ulama menggambarkan takwa sebagai gabungan di antara harapan dan rasa takut.

Ketakwaan yang dinyatakan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah yang dapat disaksikan secara lahiriah merupakan perwujudan keimanan seseorang kepada Allah Swt. Iman yang terdapat di dalam dada diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah. Oleh sebab itu, kata taqwâ dalam al-Quran sering dihubungkan dengan kata îmân (الإِيْمَان), seperti dalam QS. Al-Baqarah [2]: 103, Al-A‘râf [7]: 96, آli ‘Imrân [3]: 179, Al-Anfâl [8]: 29, dan Muhammad [47]: 36.

Al-Quran menyebut orang yang bertakwa dengan muttaqî (الْمُتَّقِى), jamaknya muttaqîn (الْمُتَّقِيْنَ), yang berarti “orang yang bertakwa”. Kata tersebut disebut al-Quran sebanyak 50 kali. Kata ini digunakan al-Quran untuk (1) Menggambarkan bahwa orang-orang yang bertakwa dicintai oleh Allah Swt. dan di akhirat nanti akan diberi pahala dan tempat yang paling baik (surga), seperti yang diungkapkan dalam QS. آli ‘Imrân [3]: 76, Adz-Dzâriyât [51]: 15, dan Ad-Dukhân [44]: 51; (2) Menggambarkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang mendapat kemenangan, seperti diungkapkan dalam QS. An-Naba’ [78]: 31; (3) Menggambarkan bahwa Allah merupakan pelindung (wali) bagi orang-orang yang bertakwa, seperti diungkapkan dalam QS. Al-Jâtsiyah [45]: 19; dan (4) Menggambarkan bahwa beberapa kisah yang terjadi merupakan peringatan dan teladan bagi orang-orang yang bertakwa, seperti yang diungkapkan dalam QS. Al-Anbiyâ’ [21]: 48 dan Al-Hâqqah [69]: 48.

Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci siapa yang dimaksudkan dengan istilah itu. Al-Quran hanya menyebutkan beberapa cirinya, antara lain dalam QS. Al-Baqarah [2]: 2-5. Selanjutnya, dijelaskan dalam QS. آli ‘Imrân [3]: 132-135.

Ciri-ciri orang bertakwa menunjukkan suatu kepribadian yang benar-benar utuh dan integral, sebagaimana dinyatakan di dalam QS. Al-Hujurât [49]: 13. Penggunaan kata atqâkum (أَتْقَاكُمْ) dalam ayat ini menunjukkan bahwa taqwâ mempunyai tingkatan-tingkatan. Perbedaan tingkatan tersebut sangat ditentukan oleh kualitas keimanan dan ketaatan seseorang dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya.

Orang-orang bertakwa diberi berbagai kelebihan oleh Allah Swt, tidak hanya ketika mereka di akhirat nanti tetapi juga ketika mereka berada di dunia ini. Beberapa kelebihan mereka disebutkan di dalam al-Quran, antara lain: (1) Dibukakan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapinya (QS. Ath-Thalâq [65]: 2); (2) Dimudahkan segala urusannya (QS. Ath-Thalâq [65]: 4); (3) Dilimpahkan kepadanya berkah dari langit dan bumi (QS. Al-A‘râf [7]: 96); (4) Dianugerahi furqân (فُرْقَان), yakni petunjuk untuk dapat membedakan yang hak dan bathil (QS. Al-Anfâl [8]: 29; dan (5) Diampuni segala kesalahan dan dihapus segala dosanya (QS. Al-Hadîd [57]: 28 dan Al-Anfâl [8]: 29). (Hasan Zaini)
(Sumber: http://www.psq.or.id/ensiklopedia)

%d bloggers like this: