Category Archives: Tanda-tanda Taqwa

Tanda-Tanda Takwa (2)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan memaafkan (kesalahan) orang…” (Ali Imran [3]: 133 – 134).

Menurut ayat di atas, setidak-tidaknya ada empat indikator yang menandai ketakwaan seseorang.

Pertama, orang-orang yang senantiasa menginfaqkan hartanya disaat lapang maupun sempit. Mereka ini disebut mempunyai kecerdasan finansial.

Orang-orang yang memiliki kecerdasan finansial adalah mereka yang pandai mengumpulkan pundi-pundi kekayaan melalui kerja keras dan cerdas, lalu pandai pula mengelolanya, termasuk menyisihkan sebagian untuk kaum dhu’afa dan masakin.

Kedua, orang-orang yang bisa mengendalikan amarahnya. Mereka disebut memiliki kecerdasan emosional.

Orang yang kuat, menurut Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW), bukanlah orang yang kuat bertarung. Orang yang kuat dalam Islam adalah orang yang mampu menahan marah.

Islam tidak melarang kita marah. Islam membolehkan kita marah. Yang dilarang adalah marah yang tidak terkendali. Emosi yang meletup-letup tanpa kontrol.

Perasaan senang dan benci, perasaan bahagia dan bersedih, demikian juga marah adalah sifat alamiah manusia. Persoalannya, orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi mampu mengendalikan perasaannya sehingga mereka tahu kapan dan dimana bisa mengungkapkan perasaan senang atau ketidak senangannya.

Ketiga, mudah memaafkan, atau memiliki kecerdasan sosial.

Tanda orang yang memiliki kecerdasan sosial itu bisa dilihat dari pergaulannya sehari-hari, apakah mereka diterima masyarakat lingkungannya atau dijauhi? Orang yang memiliki kecerdasan sosial mudah bergaul, luwes, dan diterima. Sikapnya tidak arogan, atau sombong. Tidak egois dan mau berbagi. Mereka hidup di tengah masyarakat, berbaur, menyatu, dan tidak menyendiri. Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang bergaul dan sabar terhadap gangguan orang, lebih besar pahalanya daripada yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar dalam menghadapi gangguan mereka,” (Riwayat Ahmad dan Tirmidzi).

Dalam pergaulan sosial, ada saja di antara saudara kita yang perkataannya menyinggung perasaan, sikapnya tidak menyenangkan, dan perbuatannya merugikan. Terhadap mereka, Islam mengajarkan agar kita lebih bersabar dan pandai-pandai memaafkan.

Keempat, apabila berbuat kerusakan, mereka segera mengingat Allah, lalu meminta ampun atas kesalahan dan dosanya. Mereka memiliki kecerdasan spiritual.

Orang yang baik, dalam pandangan Islam bukanlah orang yang tidak pernah berbuat kesalahan. Orang yang bertakwa bukanlah orang yang sama sekali bebas dari perbuatan dosa. Orang yang bertakwa adalah mereka yang apabila melakukan kesalahan, perbuatan yang kurang baik, dan melanggar ketentuan segera mengingat Allah lalu meminta ampun dan bertobat. Mereka segera kembali ke jalan yang benar dan lurus ketika terperosok. Mereka tidak terlalu lama berada dalam kesesatan.

Orang yang memiliki kecerdasan spiritual senantiasa mengingat Allah, kapan dan di manapun juga. Ketika hendak memulai sesuatu, mereka mengingat Allah lalu mengucapkan bismillah. Setiap langkahnya diperhitungkan, apakah sesuai dengan syariat agama? Apakah perbuatan dan tindakannya menguntungkan bagi dirinya dan memberi manfaat kepada orang lain? Apakah perilakunya mencerminkan kasih sayang (rahman dan rahim)?

Ketika pekerjaannya telah usai, tak lupa mereka bersyukur sambil mengucapkan alhamdulillah. Mereka tidak ingin dipuji, sebab mereka sadar bahwa segala puji adalah milik Allah. Mereka syukuri semua karunia Allah, lalu bertawakkal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. * SUARA HIDAYATULLAH NOPEMBER 2008

(Sumber: http://majalah.hidayatullah.com/?p=1586

Tanda-Tanda Orang Taqwa (1)

Kalimat takwa sudah sering kita dengar dan banyak diantara kita yang sudah memahami tentang makna takwa tersebut. Juga kemungkinan ada yang belum mehamaminya secara dalam. Kenapa begitu penting masalah takwa ini, karena memang orang yang mulya disisi Allah adalah orang yang paling takwa, sebagaimana firmannya; إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ . takwa ada yang mengartikan takut, tapi yang dimaksud bukan takut seperti kita kepada makhluk, seprti takut kepada orang yang akan mengancam kita. Tapi takut dalam arti takwa adalah takut kepada Allah, takut meninggalkan peritahnya dan takut mengerkalan larangan-Nya. Kalau takut kepada manusia kita menjauh tapu takut kepada Allah justru kita mendekat, yang selalu kita istilah kan dengan Taqoruban Ilallah.

Takwa secara umum mengerjakan perintah dan larangan Allah, itu sudah disebut takwa. Namun dalam masa ke Khalifahan Umar ibnul Khattab pernah ada seorang yang bertanya kepadanya; ya Amirul mukminin, apa makna takwa? Umar menjawab, tetapi justru Umar balik bertanya kepadanya, kalau anda berjalan disuatu jalanan yang dalam jalanan itu ada halangan mungkin ada duri dan lain-lain, bagaimana cara anda berjalannya? Orang yang bertanya itu lalu menjawabnya, ya tentu saya akan berhati-hati. Lalu Umar berkata; itulah dia makna takwa. Artinya dalam kita menjalankan ajaran agama Islam itu kita harus berhati-hati baik itu yang ada kaitannya dengan Ibadah perintah Allah ataupun yang terlebih lagi larangannya.

Kita melihat ada orang yang sedang beribadah, menurut pandangan kita itu baik. Kita tidak boleh langsung mengikuti, tapi mari kita teliti, sedikit. Apakah yang dikerjakan oleh orang itu ada peritnahnya dari Allah dan rasul ataukah tidak ada?!. Kalau memang tidak ada perintahnya maka kita teliti lagi apakah ada manfaatnya? Kalau memang tidak ada manfaatnya jangan kita lakukan dan jangan kita kerjakan walaupun menurut pandangan kita itu baik itulah dia orang yang bertakwa. Tidak sembarangan melakukan ibadah tanpa mengetahui asal-usulnya. Karena ibadah yang dilakukan tanpa didasari dengan ilmu maka sia-sialah pengamalannya itu. Syaikh Ibnu Ruslan mengatakan dalam kitab Mattan Jubad ; فَكُلُّ مَنْ بِغَيْرِ عَلْمٍ يَعْمَلُ أَعْمَالُهُ مَرْدُوْدَةٌ لاَ يُقْبَلُ segala amal ibadah yang dilakukan tanpa didasari dengan ilmu maka ditolak (tidak diterima).

Jadi dipelajari dulu dari ibadah itu, apalagi dia larangan. Orang menganggap mungkin ini menguntungkan tapi dilarang oleh Allah sebagai mana dalam Al-Quran Allah menjelaskan, “ Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. Sama-sama menguntungkan, jual beli juga untung pun riba begitu. Jual beli menguntungkan dihalalkan oleh Allah, tapi ketika riba menguntungkan namun diharamkan oleh Allah. Oleh karena itu jangan karena kita melihat untungnya saja, ini bermanfaat tetapi diharamkan. Apabila orang bisa berhati-hati dalam dalam mengerjakan amal itu maka dia sudah masuk orang yang bertakwa.

Mungkin sudah ada yang melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah, tapi hanya berkaitan dengan Hablun minallah dia belum melaksanakan yang berkaitan dengan manusia atau hablun minannas, maka belum sempuna takwanya. Bahkan dalam surat3:112 Allah menjelaskan; ditimpakkan kepada kamu kehinaan dimanapun kamu berada, kecualu bagi kita kalau tidak mau ditimpakkan kepada kita maka harus selalu mengadakan hubungan vertikal kepada Allah, yaitu segala perintah yang Allah perintahkan kepada kita, kita kerjakan. Tapi tidak cukup kata Allahm harus juga berhubungan dengan manusia (horizontal) bahkan tidak hanya kepada sesama manusia kepada seluruh alam ini. Kita tetap berbuat baik.

Oleh karena itu kalau kita baru mengerjakan peritah Allah meningalkan larangan-Nya saja yang kaitannya dengan Allah maka belum sempurna kita. Untuk lebih sempurna agar kita bisa taka maka kita diperintahkan untuk berhubungan dengan manusia yang mana tanda-tandanya adalah yang bertakwa kepada Allah. Telah dijelaskan dalam Quran surat 3:133-135. Bila kita melihat orang itu berbuat sesuai dengan surat Ali-Imran mereka yakin bahwa orang itu termasuk orang-orang takwa menurut pandangan kita. Menurut pandangan Allah tergantung keihklasannya dalam melaksanaka ibadahnya.

Tanda-tanda orang yang bertakwa

Orang orang yang menginfakkan hartanya baik dalam keadaan senang maupun ketka susah (kaya dan miskin). Tinggal kadarnya saja yang berbeda.orang-orang yang mempunyai harta yang banyak tentu saja dia lebih banyak berinfak, bukan sebaliknya karena kaya takut kehabisan hartanya maka dia bakhil enggan untuk mengeluarkann sebagian hartanya. Bahkan sebaliknya orang yang tidak terlalu kaya, tapi dia ingin mendapatkan nilai-nilai pahala justru dia lebih banyak mengeluarkan hartanya. Demikian yang diperintahkan Allah senang atau susah terus tetap berinfak. Karena amal inilah yang kelak bisa menolong kita diyaumil mahsyar. Karena harta yang kita miliki didunia ini tidak akan kita bawa. Janganlah sampai keyaumil mahsyar keliang kubur pun tidak sampai. Bagaimana Rasul dalam sabdanya; bila anak Adam meninggal maka tiga perkara yang mengikutinya, yang dua kembali Cuma satu yang akan menemaninya yaitu amal shalehnya ketika didunia. Hartanya berapapun banyaknya tidak akan bisa menemaninya dialam kubur, tetap saja didunia tidak ada satupun yang ikut kepadanya. Begitupun dengan keluarganya, oleh karenanya bila kita memiliki yang berkelebihan harta keluarkanlah sebahagian dari padanya karena pada harta itu ada yang bukan milik kita. Firman Allah ; dan pada hartamu itu ada milik orang lain, وَفِى أَمْوَالِهِمْ حَقُّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُوْمِ baik itu yang diminta ataupun yang tidak diminta (kalau mau berinfak jangan menunggu orang meminta) terlebih lebih untuk kemaslahatan umat
Orang yang bisa mengendalikan emosinya. Memang sifat marah itu pasti ada pada setiap manusia, karena memang manusia memiliki nafsu yang mengajak kepada hal-hal yang tidak baik “ Sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada hal-hal yang tidak baik, kecuali nafsu yang mendapatkan rahmat dari Allah”. Karena itu ketika dalam kondisi marah maka kendalikan, jangan sampai mencari kesalahan-kesalahan orang, mengejek, mencaci, menghina. Barang kali kita sakit hati, kalau timbul marah kita tak terkendali ini sangat bahaya. Karena itu Allah mengingatkan bahwa orang yang bertakwa adalah yang bsia mengendalikan amarahnya
Suka memaafkan kesalahan orang lain. Yang namanya manusia tidak ada yang tidak punya kesalahan, pasti ada saja kesalahan padanya dan kelupaan. Oleh karenanya kalau ada orang yang bersalah dan belum minta maaf tapi kita diperintahkan untuk menaafkannya. Kalau kita tidak memaafkannya maka nanti kita akan melakukan transaksi dipadang mahsyar kita akan meninta kepada orang yang pernah membuat kesalahan kepada kita agar dia memberikan apa yang pernah dia buat salah ketika didunia. Jika kita tidak bisa memaafkan kesalahan orang lain, ketika sudah diberikan tiket untuk masuk syorga maka kita tidak bisa masuk karena kita masih bertransaksi kepada orang-orang yang dahulu didunia tidak pernah kita maafkan. Akhirnya orang-orang sudah pada masuk syorga kita masih sibuk mencari cari orang yang belum kita maafkan. Padahal kita sudah mendapat izin untuk masuk syorga. Kerugian bagi kita walaupun didunia memang hak kita untuk tidak memaafkan, tapi Allah menjelaskan bahwa salah satu tanda orang yang bertakwa adalah memaafkan kesalahan orang lain. Karena perbuatan ini adalah perbuatan baik dan Allah menutup ayatnya bahwa Allah sangat suka kepada orang yang berbuat baik.

Dalam ayat 135 ada dua dosa yang besar;

Fahisyah; seperti mencelakakan orang lain, membunuh, mencuri, menipu dan lain-lain.
Zhalim (dosa diri sendiri) ketika melanggar larangan Allah, yang dilarang kita kerjakan. Bahkan belakanagan ini kita mendengar orang yang berangkat haji akan disuntik yang didalam suntikan itu mengandung, lemak babi (sutik menihitis).

Ini perlu ketegasan dari Departemen agama, menteri Agama, dan majlis ulama, untuk segera menetapkan itu haram atau halal. Apakah mengandung babi atau tidak karena ini berkaitan dengan menzhalimi diri sendiri. Kedua dosa ini kita lakukan dan ktia sadar maka cepat-cepatlah bertaubat kepada Allah. Segera memohon ampun dari dosa-dosa yang kita perbuat. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa itu kecuali kita langsung mohon kepada Allah. Jangan diulangi perbuatan tersebut karena tidak menyukai orang-orang yang mengulang-ulang dalam berbuat dosa padahal kamu tahu.

Demikianlah tanda-tanda orang yang bertakwa dalam kaitannya dengan hubungan dengan manusia. Semoga kita bisa mengintrospeksi diri kita ini, sehingga kita bisa lebih bertakwa kepada Allah SWT.

(Sumber: http://www.babussalammosque.com/

TANDA-TANDA TAQWA (3)

Allah SWT berfirman dalam Surat Ali’Imran Ayat 133:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu (Allah SWT) dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang taqwa (muttaqin).
Selanjutnya Allah SWT menguraikan tanda-tanda orang yang taqwa, dalam Surat Ali’Imran Ayat 134:

(yaitu) Orang-orang yang berinfaq (karena Allah SWT), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mereka yang pemaaf terhadap (kesalahan) manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Marilah terlebih dahulu kita coba memahami apakah itu Taqwa. Taqwa memiliki tiga tingkatan. Ketika seseorang melepaskan diri dari kekafiran dan mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah, dia disebut orang yang taqwa. Didalam pengertian ini semua orang beriman tergolong taqwa meskipun mereka masih terlibat beberapa dosa. Jika seseorang menjauhi segala hal yang tidak disukai Allah SWT dan RasulNya (SAW), ia memiliki tingkat taqwa yang lebih tinggi. Yang terakhir, orang yang setiap saat selalu berupaya menggapai cinta Allah SWT, ia memiliki tingkat taqwa yang lebih tinggi lagi.
Allah SWT menjelaskan dalam Surat Ali’Imran Ayat 102:

Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim (beragama Islam)
Allah SWT telah menjabarkan berbagai ciri-ciri orang yang benar-benar taqwa. Mereka menafkahkan rizkinya di jalan Allah SWT dalam keadaan lapang maupun sempit. Dengan kata lain, jika mereka memiliki uang seribu dollar diinfaqkannya paling tidak satu dollar, dan jika hanya memiliki seribu sen mereka infaqkan satu sen. Menafkahkan rizki di jalan Allah SWT adalah jalan-hidup mereka. Allah SWT (atas kehendakNya) menjauhkan mereka dari kesulitan (bala’) kehidupan lantaran kebajikan yang mereka perbuat ini. Lebih dari itu, seseorang yang suka menolong orang lain tidak akan mengambil atau memakan harta orang lain, malahan ia lebih suka berbuat kebaikan bagi sesamanya. ‘Aisyah RA sekali waktu pernah menginfaqkan sebutir anggur karena pada waktu itu ia tidak memiliki apa-apa lagi. Beberapa muhsinin (orang yang selalu berbuat baik) menginfaqkan sebutir bawang. Nabi Muhammad SAW bersabda:

“ Selamatkanlah dirimu dari api nereka dengan berinfaq, meskipun hanya dengan sebutir kurma. (Bukhari & Muslim)
Didalam “Tafsir Kabir” Imam Razi diceritakan bahwa suatu kali Nabi Muhammad SAW mengajak umatnya untuk berinfaq. Beberapa dari mereka memberikan emas dan perak. Seseorang datang hanya menyerahkan kulit kurma, “Saya tak memiliki selain ini.” Seorang lain lagi mengatakan kepada Nabi Muhammad SAW, “Saya tak punya apapun untuk diinfaqkan. Saya infaqkan harga-diri saya. Jika ada seseorang menganiaya atau mencaci-maki saya, saya tidak akan marah.” Demikianlah, kita dapat mengambil pelajaran bahkan orang miskin pun terbiasa memberikan apapun yang dia miliki untuk menolong orang lain di masa hidup Rasulullah SAW.

Ayat diatas tidak menjelaskan apa yang harus diinfaqkan. Berinfaq tidak hanya berarti sebagian dari hartanya tetapi juga waktu dan keahlian. Ada kebijaksanaan yang besar dalam penjabaran mengenai mukmin yang shaleh yang berinfaq dikala lapang maupun sempit. Kebanyakan orang melupakan Allah SWT ketika berada dalam keadaan sangat lapang. Mereka juga lupa kepada Allah SWT dikala sempit karena terlalu larut dalam kesedihan menanggung kesempitannya.
Seorang penyair berbahasa urdu berujar, “Jangan menganggap seseorang itu terpelajar bilamana ia melupakan Allah SWT diwaktu ia kaya, tidak takut kepada Allah SWT ketika ia sedang marah.”

Allah SWT menyatakan bahwa tanda ketaqwaan mukmin yang ke-dua ialah mereka dapat mengendalikan amarah. Tanda ke-tiga, selain mengendalikan amarah mereka juga memaafkan kesalahan orang lain dengan sepenuh hati. Terakhir (ke-empat), yang tidak kalah pentingnya, mereka bersikap baik terhadap sesama manusia. Ketika Imam Baihaqi RA menjelaskan ayat ini, ia mengisahkan sebuah peristiwa. Dikatakannya, “Suatu ketika Ali bin Hussain RA sedang berwudhu dan pelayannya yang menuangkan air ke tangannya menggunakan bejana. Bejana terlepas dari pegangan pelayan itu dan jatuh mengenai Ali. Sang pelayan menangkap kekecewaan di wajah Ali. Dengan cerdiknya sang pelayan membaca ayat diatas kata demi kata. Ketika sampai pada kalimat ‘orang yang taqwa mengendalikan amarahnya’ Ali RA menelan amarahnya. Ketika sampai pada ‘mereka memaafkan orang lain’ Ali RA berkata, “Aku memaafkanmu” Dan ketika dibacakan bahwa Allah SWT mencintai mereka yang bersikap baik kepada orang yang melakukan kesalahan, Ali memerdekakannya.

Memaafkan orang lain akan mendapatkan pahala yang besar di Hari Pembalasan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah SWT akan memberikan pengumuman di Hari Pembalasan, barang siapa yang memiliki hak atas Allah SWT agar berdiri sekarang. Pada saat itu berdirilah orang-orang yang memaafkan orang-orang kejam yang menganiaya mereka. Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Barang siapa berharap mendapatkan istana yang megah di surga dan berada di tingkatan yang tinggi dari surga, hendaknya mereka mengerjakan hal berikut ini:
• Memaafkan orang-orang yang berbuat aniaya kepada mereka.
• Memberi hadiah kepada orang yang tidak pernah memberi hadiah kepada mereka.
• Jangan menghindari pertemuan dengan orang-orang yang dengan sengaja memutuskan hubungan dengan mereka.
Dalam kesempatan ini tidaklah salah tempat untuk mengingatkan anda bahwa sesama Muslim hendaknya saling memberi hadiah sesering mungkin sesuka mereka. Hal ini hendaklah menjadi kebiasaan, dan janganlah membatasi di hari-hari spesial sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang tidak beriman pada perayaan Natal dan Pernyataan Syukur (thanksgiving).
Allah SWT memberi petunjuk dengan sangat indah bagaimana hendaknya kita berperilaku terhadap musuh-musuh kita yang paling jahat dalam Surat Fushshilat Ayat 34:

Tidaklah sama perbuatan baik dengan perbuatan jahat. Jika kamu membalas perbuatan jahat dengan kebaikan, maka musuh-musuhmu yang paling keras akan menjadi teman karib dan sejawatmu.
Suatu ketika, seseorang berbuat kasar dan mencaci-maki Imam Abu Hanifah. Beliau tidak membalas dengan sepatah-katapun padanya. Ia pulang ke rumah dan mengumpulkan beberapa hadiah, lalu pergi mengunjungi orang tersebut. Imam Abu Hanifah memberikan hadiah-hadiah itu kepadanya dan berterimakasih atas perlakuan orang itu kepadanya seraya berkata: “Kamu telah berbuat untukku hal yang sangat aku sukai, yaitu memindahkan catatan perbuatan baikmu menjadi catatan perbuatan baikku dengan cara berlaku kasar seperti tadi kepadaku.”
Lebih lanjut Allah SWT berfirman didalam Surat Ali’Imran Ayat 135 dan 136, menambahkan tanda-tanda ketaqwaan orang-orang beriman.

Ketika mereka (orang-orang beriman) itu terlanjur berbuat jahat atau aniaya, mereka ingat kepada Allah dan memohon ampun atas dosa-dosa mereka, dan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Allah. Dan mereka tidak tetap berbuat aniaya ketika mereka mengetahui.
Untuk mereka balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka, dan surga yang mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal didalamnya. Itulah sebaik-baik pahala atas amal-perbuatan mereka.
Perhatikanlah bahwa dalam ayat ini ampunan Allah SWT mendahului balasan masuk surga. Maka, dari ayat ini jelaslah bahwa untuk masuk surga haruslah melalui ampunan dan kasih-sayang Allah SWT dan bukan tergantung pada amal-perbuatan kita saja. Perlu juga kita garis- bawahi, Allah SWT berfirman bahwa bobot surga itu jauh lebih berharga dari gabungan bumi dan seluruh langit. Hal ini bisa memberikan pengertian lain dari ayat ini. Jika lebar surga sama dengan lebar langit dan bumi, bagaimanakah dengan panjangnya, sedangkan ukuran panjang selalu lebih besar daripada lebar. Singkat kata, ayat ini memberikan pernyataan bahwa surga itu telah dipersiapkan bagi orang-orang beriman yang telah mencapai tingkat taqwa. Menurut beberapa ulama muslim yang termasyhur, surga itu berada diatas langit ke-tujuh dan jiwa para syuhada telah menikmati surga sebagai hasil dari perjuangan mereka.
Saya berdo’a kepada Allah SWT, semoga Dia menjadikan kita mukmin yang bertaqwa dan menerapkan keimanan kita. Amiin
(Sumber:http://imtiazahmad.com/)

%d blogger menyukai ini: