Tafsir QS.AlBaqarah 2:3-4

afsir 2:3a CIRI PERTAMA ORANG TAKWA: IMAN, YANG MEMBAWA KESELAMATAN
CIRI PERTAMA ORANG TAKWA: IMAN, YANG MEMBAWA KESELAMATAN

“(Yaitu) Mereka yang beriman kepada yang ghaib,’ (2:3a)
Ayat ini menjelaskan ciri orang yang takwa, menerangkan ayat sebelumnya.
Ciri pertama orang yang takwa adalah “beriman kepada yang ghaib”. Beriman adalah percaya, yang berbeda dari mengindera dan berpikir. Mengindera adalah melihat, mendengar, mencium, merasa, obyeknya konkret, yaitu dunia empiris. Berpikir adalah memeras otak untuk memahami suatu persoalan, obyeknya abstrak. Sedangkan beriman adalah mempercayai informasi, yang sumbernya adalah wahyu.
Jadi, sumber pengetahuan itu tiga: pancaindera, pikiran, dan wahyu. Apa yang tidak teridera oleh pancaindera tidak berarti tidak ada, bila pikiran membenarkannya, misalnya konsep, nilai, paham, dsb. Dan apa yang tidak terindera oleh pancaindera atau tidak diterima oleh akal tidak berarti tidak ada atau salah, bila wahyu memberitakannya. Itulah yang yang ghaib. Yang ghaib adalah segala yang tidak terindera oleh pancaindera, tetapi dapat diketahui oleh pikiran atau diinformasikan oleh wahyu, misalnya Tuhan, hidup setelah mati, surga dan neraka, dsb. Hidup sesudah mati, misalnya, sulit diterima akal, karena bagaimana mungkin manusia yang sudah hancur lebur tinggal tulang belulang kering, bisa hidup kembali. Tetapi itu benar sebenar-benarnya karena wahyu memberitakannya.
Yang ghaib yang diberitakan oleh wahyu itu tidak berarti tidak menggunakan indera dan pikiran untuk membuktikannya. Al-Qur’an, misalnya, meminta manusia untuk menggunakan mata kepala, mata pikiran, dan mata hati (itulah kiranya pengertian yanzhurun) untuk melihat, bagaimana kejadian unta, luasnya kosmos, kokohnya gunung, dan terhamparnya bumi, sehingga manusia dapat diam di bumi ini dengan baik. Setelah itu manusia perlu mengambil pelajaran tentang adanya Tuhan yang menciptakan semuanya itu (88:17-22). Oleh karena itu iman tidak berarti menerima mentah-mentah begitu saja. Iman perlu dibantu oleh indera dan pikiran.
Karena iman dibantu oleh indera dan pikiran, sedangkan indera dan pikiran itu terbatas, maka apa yang bisa dicapai dengan iman itu juga terbatas. Oleh karena itu apa yang diimani oleh manusia tentang Tuhan, kehidupan akhirat, surga dan neraka, dsb. tidak akan sama dengan kenyataannya nanti. Apa yang akan kita saksikan dan peroleh nanti akan mahahebat dan mahadahsyat daripada apa yang kita bayangkan dan pikirkan sekarang. Itulah iman, dan sikapnya adalah percaya dan menunggu.
Iman kepada yang ghaib akan membawa manusia ke dalam cakrawala yang mahaluas, mahatinggi, dan mahaagung yang tak terperkirakan. Dengan demikian manusia menjadi makhluk yang begitu luar biasa luas konsepsi dan persepsinya. Itulah keistimewaannya. Tanda orang kafir, kata Muhammad Iqbal, adalah bahwa ia hilang di dalam cakrawala, tanda orang mukmin adalah bahwa cakrawala hilang di dalam dirinya (Rahman/1983:33).
Tanda orang iman adalah bahwa Tuhan baginya segala-galanya. Ia akan mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dunia sifatnya sementara, sedangkan yang abadi adalah akhirat. Karena itu dunia baginya bukan tidak berarti, namun bukan pula tujuan, tetapi perantara. Ia ingin menguasai sebaik-baiknya dunia ini, supaya ia dapat mengantarainya untuk menguasai akhirat yang sebaik-baiknya pula. Karena itu ia akan mengelola alam ini sesuai dengan etika yang digariskan-Nya Dengan demikian orang yang iman akan menciptakan kebaikan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, orang yang kafir akan memandang dunia ini segala-galanya, karena, “Begitulah tingkat ilmu mereka,” tegas Al-Qur’an (53:30). Yang dihasilkan sikap seperti itu hanyalah kerusakan. (Prof. Dr. H. Salman Harun, UIN Jakarta)

Tafsir 2:3b: CIRI KEDUA ORANG TAKWA: SALAT, YANG MENJAMIN MANUSIA MENJADI BAIK
CIRI KEDUA ORANG TAKWA: SALAT, YANG MENJAMIN MANUSIA MENJADI BAIK

“Dan mendirikan salat,” (2:3b).
Mendirikan salat adalah ciri kedua orang yang takwa. “Mendirikan” sesuatu adalah menegakkannya sekukuh-kukuhnya sehingga tidak goyah sedikit pun. Mendirikan salat maksudnya melaksanakannya sesempurna-sempurnanya. Itu sudah dimulai dari wuduk, dan meliputi tatacaranya, bacaannya, sikapnya, waktunya, dsb.
Wuduk dimulai dengan mensucikan diri dari kotoran, terutama dua tempat keluar kotoran itu. Selanjutnya berniat bahwa kita berwuduk itu semata-mata untuk membersihkan diri kita, mensucikannya dari dosa, dan guna mendekatkan diri kepada Allah, serta untuk mematuhi perintah-Nya. Kita cuci tangan kita, kita berkumur-kumur, kita basuh muka kita dan kedua tangan kita, lalu kita seka kepala kita dan kedua telinga kita, terakhir kita basuh kedua kaki kita. Semuanya kita lakukan sesempurna mungkin. Artinya, jangan sampai ada di antara anggota tubuh itu yang tidak terkena air wuduk dengan merata. Dan kita mengerjakannya beserta niat semoga segala dosa yang mungkin telah dikerjakan oleh anggota-anggota tubuh kita itu diampuni-Nya. Berwuduk seperti itulah yang dinyatakan Nabi saw. bahwa dosa-dosa pelakunya keluar dari bawah kuku jari-jarinya.
Kemudian kita berdiri menghadap-Nya. Bagaimanakah perasaan kita pada waktu itu? Di depan siapakah kita? Mungkinkah perasaan kita biasa-biasa saja, mengingat yang kita hadapi adalah pencipta, pemelihara, dan penentu nasib kita? Kita pasang niat kita mengerjakan salat itu, yaitu menyembah-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya. Kemudian kita akui keagungan-Nya dengan mengikrarkan, Allahu Akbar ‘Allah Mahabesar’.
Semua perbuatan dalam salat itu kita kerjakan sesempurna mungkin. Kita berdiri takzim, tanda kita mengagungkan-Nya. Kita rukuk dengan tulus, tanda kita tunduk sepenuhnya kepada-Nya. Kita sujud dengan dalam, tanda kita bersumpah bahwa kita akan setia menjalankan perintah-Nya. Kita “duduk hormat” pertama antara dua sujud dengan sikap sempurna untuk bermohon kepada-Nya. Kita ulangi perbuatan itu sebanyak dua, tiga, atau empat kali sesuai rakaat salatnya. Kemudian kita akhiri salat kita dengan “duduk hormat” kedua, sambil menyampaikan pujian kepada-Nya, salam dan hormat kita kepada Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim, dan doa kita kepada kaum muslimin.
Semua bacaan di dalamnya kita pahami dan hayati. Kita ikrarkan bahwa salat, pengorbanan, hidup, dan mati kita hanya demi Dia. Kita puji Dia sampai puncak pujian, karena memang Ia yang pantas menerima pujian itu. Kita tegaskan kepada-Nya bahwa Ia Mahakuasa dan Mahaagung. Kita memohon keampunan dosa kita, kasih sayang-Nya, martabat diri kita, rezeki kita, jalan hidup kita, kesehatan kita, dsb. Dan kita ikrarkan salam hormat kita kepada-Nya. Lalu kita tutup salat kita dengan doa bagi kawan-kawan kita di sekeliling kita. Semua ucapan kita kita ikrarkan dengan penuh khusyuk, yaitu keluar dari hati yang tulus dan memohon rida dan penerimaan-Nya.
Salat itu kita kerjakan lima kali dalam sehari. Dan kita mengerjakannya di awal waktu, karena salat di awal waktu adalah puncak kebaikan.
Fungsi salat menahan manusia dari berbuat yang tidak baik (29:45). Fungsi itu pasti efektif mengingat kedekatan dan ikrar manusia kepada Tuhan itu. Dan doa manusia itu pasti dikabulkan (14:34). Dengan demikian salat menjamin manusia baik. Karena itu bila di Indonesia budaya korupsi semakin hebat, itu tanda pelaksanaan salatnya yang belum benar, bukan salah salatnya. (Prof. Dr. H. Salman Harun)

CIRI KEDUA ORANG TAKWA: SALAT, YANG MENJAMIN MANUSIA MENJADI BAIK

“Dan mendirikan salat,” (2:3).
Mendirikan salat adalah ciri kedua orang yang takwa. “Mendirikan” sesuatu adalah menegakkannya sekukuh-kukuhnya sehingga tidak goyah sedikit pun. Mendirikan salat maksudnya melaksanakannya sesempurna-sempurnanya. Itu sudah dimulai dari wuduk, dan meliputi tatacaranya, bacaannya, sikapnya, waktunya, dsb.
Wuduk dimulai dengan mensucikan diri dari kotoran, terutama dua tempat keluar kotoran itu. Selanjutnya berniat bahwa kita berwuduk itu semata-mata untuk membersihkan diri kita, mensucikannya dari dosa, dan guna mendekatkan diri kepada Allah, serta untuk mematuhi perintah-Nya. Kita cuci tangan kita, kita berkumur-kumur, kita basuh muka kita dan kedua tangan kita, lalu kita seka kepala kita dan kedua telinga kita, terakhir kita basuh kedua kaki kita. Semuanya kita lakukan sesempurna mungkin. Artinya, jangan sampai ada di antara anggota tubuh itu yang tidak terkena air wuduk dengan merata. Dan kita mengerjakannya beserta niat semoga segala dosa yang mungkin telah dikerjakan oleh anggota-anggota tubuh kita itu diampuni-Nya. Berwuduk seperti itulah yang dinyatakan Nabi saw. bahwa dosa-dosa pelakunya keluar dari bawah kuku jari-jarinya.
Kemudian kita berdiri menghadap-Nya. Bagaimanakah perasaan kita pada waktu itu? Di depan siapakah kita? Mungkinkah perasaan kita biasa-biasa saja, mengingat yang kita hadapi adalah pencipta, pemelihara, dan penentu nasib kita? Kita pasang niat kita mengerjakan salat itu, yaitu menyembah-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya. Kemudian kita akui keagungan-Nya dengan mengikrarkan, Allahu Akbar ‘Allah Mahabesar’.
Semua perbuatan dalam salat itu kita kerjakan sesempurna mungkin. Kita berdiri takzim, tanda kita mengagungkan-Nya. Kita rukuk dengan tulus, tanda kita tunduk sepenuhnya kepada-Nya. Kita sujud dengan dalam, tanda kita bersumpah bahwa kita akan setia menjalankan perintah-Nya. Kita “duduk hormat” pertama antara dua sujud dengan sikap sempurna untuk bermohon kepada-Nya. Kita ulangi perbuatan itu sebanyak dua, tiga, atau empat kali sesuai rakaat salatnya. Kemudian kita akhiri salat kita dengan “duduk hormat” kedua, sambil menyampaikan pujian kepada-Nya, salam dan hormat kita kepada Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim, dan doa kita kepada kaum muslimin.
Semua bacaan di dalamnya kita pahami dan hayati. Kita ikrarkan bahwa salat, pengorbanan, hidup, dan mati kita hanya demi Dia. Kita puji Dia sampai puncak pujian, karena memang Ia yang pantas menerima pujian itu. Kita tegaskan kepada-Nya bahwa Ia Mahakuasa dan Mahaagung. Kita memohon keampunan dosa kita, kasih sayang-Nya, martabat diri kita, rezeki kita, jalan hidup kita, kesehatan kita, dsb. Dan kita ikrarkan salam hormat kita kepada-Nya. Lalu kita tutup salat kita dengan doa bagi kawan-kawan kita di sekeliling kita. Semua ucapan kita kita ikrarkan dengan penuh khusyuk, yaitu keluar dari hati yang tulus dan memohon rida dan penerimaan-Nya.
Salat itu kita kerjakan lima kali dalam sehari. Dan kita mengerjakannya di awal waktu, karena salat di awal waktu adalah puncak kebaikan.
Fungsi salat menahan manusia dari berbuat yang tidak baik (29:45). Fungsi itu pasti efektif mengingat kedekatan dan ikrar manusia kepada Tuhan itu. Dan doa manusia itu pasti dikabulkan (14:34). Dengan demikian salat menjamin manusia baik. Karena itu bila di Indonesia budaya korupsi semakin hebat, itu tanda pelaksanaan salatnya yang belum benar, bukan salah salatnya. (Prof. Dr. H. Salman Harun)

(Sumber: http://salmanharun-institute.blogspot.com/

Posted on 23/02/2011, in Tafsir. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Tafsir QS.AlBaqarah 2:3-4.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: