BENTENG TAQWA

Oleh: Si Pincang

PERSOALAN TAQWA.
Dalam Alqur-an telah diterangkan bahwa manusia itu asalnya diciptakan dari tanah.
WALLOOHU KHOLAQOKUM MIN TUROOBIN.
Artinya : “Dan Alloh menciptakan kamu semua dari tanah “.
Meskipun manusia itu bahan penciptaannya dari tanah (jadi sama dengan bahannya cowek/cobek) tapi oleh Alloh Ta’ala manusia itu jadikan makhluk yang pa-ling mulya. Sehingga derajatnya manusia itu bisa lebih mulya dari tanah, lebih mulya dari tumbuh-tumbuhan, lebih mulya dari hayawan, lebih mulya dari jin, lebih mulya dari syaithon, bahkan lebih mulya dari Malaikat. Sebagaimana diterangkan dalam Alqur-an :
WALAQOD KARROMNAA BANII AADAM.
Artinya : “Dan sungguh-sungguh kami mulyakan Bani Adam”.
Akan tetapi (jadi ada tapinya) kemulyaan manusia yang melebihi semua makhluk itu ada yang tetap tersandang, ada yang tidak tetap, ada yang tambah meningkat, ada pula yang jatuh. Adapun yang jatuh itu :
Ada yang jatuh sampai ketingkat benda (jadi kembali ke tingkat bahannya), sebagaimana yang tersebut dalam Alqur-an :
KAL HIJAAROTI AU ASYADDU QOSWAH.
” Laksana batu bahkan lebih keras lagi “.
Ada yang jatuh ketingkat laba-laba.
KAMATSALIL ‘ANGKABUT.
” Seperti laba-laba (kemlandingan) “
Ada yang jatuh ketingkat ternak.
ULAA-IKA KAL AN-‘AAM.
” Mereka itu seperti hayawan ternak “.
Jadi bentuknya tetap bentuk manusia tapi martabatnya sudah jatuh ketingkat hayawan ternak, seperti kambing, sapi, kerbau dan seterusnya.
Ada yang jatuh ketingkat kera.
KUU-NUU QIRODATAN KHOOSYI-IIN
” Mereka itu seperti kera yang hina “.
Ada yang jatuh ketingkat babi.
WAL KHONAAZIIRI.
” Menjadi babi “.
Ada yang jatuh ketingkat anjing.
FAMATSALUHU KAMATSALIL KALBI.
Maka perumpamaannya itu seperti anjing.
Ada yang jatuh ketingkat syaithon.
SYAYAATHIINAL INSI WAL JINNI.
Syaithon berbentuk manusia dan berbentuk jin.
Jadi meskipun manusia itu asalnya mulya tapi bisa juga jatuh ketingkat yang rendah atau hina. Dan supaya manusia tidak jatuh ketingkat yang rendah maka Alloh Ta’ala membuat aturan. Jadi adanya aturan-aturan itu adalah untuk melindungi atau menjaga martabat manusia yang sangat tinggi itu agar tidak jatuh ketingkat yang rendah. Dan penjagaan atau perlindungan itu bahasa Arabnya adalah Taqwa. Makanya dalam Alqur-an diterangkan :
INNA AKROMAKUM ‘INDALLOOHI ATQOOKUM.
Artinya : “Sesungguhnya semulya-mulya diantara kamu bagi Alloh adalah yang paling taqwa diantara kamu”. (Al hujurot ayat 11)
Adapun TAQWA itu asalnya adalah dari kata WAQWA . WAQOO – YAQII – WIQOOYATAN.
Kemudian WAWU nya pada kalimat WAQWA dibuang, diganti dengan TA’, jadilah kalimat TAQWA. Dan WAQWA atau TAQWA itu artinya penjagaan atau perlindungan atau pembentengan. Jadi TAQWA itu adalah penjagaan atau perlindungan atau pembentengan martabat manusia (kedudukan manusia / kemulyaan manusia).
Adapun benteng TAQWA itu berlapis lapis (ada 4 lapis), yaitu :
  • Benteng lapis pertama berupa perintah-perintah Alloh yang bersifat dhohir.
  • Benteng lapis kedua berupa larangan-larangan Alloh yang bersifat dhohir.
  • Benteng lapis ketiga berupa perintah-perintah Alloh yang bersifat bathin.
    Seperti perintah shobar, perintah tawakkal, perintah dermawan, perintah ikhlas dan seterusnya.
  • Benteng lapis ke empat berupa larangan-larangan Alloh yang bersifat bathin.
    Seperti larangan takabbur (sombong), larangan riya’ (ingin dipuji), larangan nifak, larangan syirik dan lain sebagainya.
Dan kalau diri kita sudah bisa terbentengi dengan 4 lapis tembok taqwa itu, insya Alloh martabat kita akan tetap.
SULITNYA MEMPUNYAI  BENTENG TAQWA.
Sedangkan untuk mempunyai benteng taqwa itu sulitnya bukan main. Walaupun begitu, para mubalegh masih tetap sering mengajak kita untuk meningkatkan taqwa. Ini harus kita syukuri. Sebagaimana yang mesti disampaikan didalam khutbah seperti :
YAA-AYYUUHAN NAASUT TAQULLOOHA.
Wahai manusia bertaqwalah kamu kepada Alloh.
Atau :
FAYAA-AYYUUHAL MUSLIMUUNAT TAQUL LOOHA.
” Maka bertaqwalah kamu semuanya kepada Alloh “.
Malah kadang-kadang ada yang ditambahi dengan kalimat HAQQO TUQOOTIH (sebenar-benarnya taqwa). ( Ini adalah taqwa tingkat tinggi. Dan taqwa itu sendiri ada 3 tingkatan ).
Jadi disetiap khutbah itu mesti ada ajakan untuk bertaqwa atau ada kalimat ITTAQULLOOHA, baikpun khutbah Jum’at, khutbah hari raya, khutbah nikah. Dan jika tidak ada ITTAQULLOHA nya maka khutbahnya itu tidak sah.
Bagi si pembaca khutbah enteng saja memerintahkan kita untuk bertaqwa, seperti yang sering disampaikan (dalam bahasa Indonesianya) : Taqwalah kamu semua kepada Alloh.
(Yang mendengarkan disuruh taqwalloh tapi yang membaca tidak). Kalau kalimatnya perintah, itu karena yang memberi perintah sudah taqwa sedangkan yang mendengarkan belum taqwa.
Jawabannya para pendengar : Insya Alloh.
Ada juga yang tidak memerintahkan tapi mengajak-ajak seperti kalimat : Marilah kita bertaqwa kepada Alloh. (Demikian ini karena sama-sama belum taqwanya, sehingga mengajak-ajak).
Padahal untuk mencapai taqwa itu sulit sekali. Bagaimana tidak dikatakan sulit, sedangkan untuk mencapai benteng yang lapis pertama saja (benteng perintah-perintah Alloh yang bersifat dhohir) itu sudah sulit. Belum lagi benteng kedua, ketiga dan seterusnya. Bayangkan banyaknya perintah Alloh yang bersifat dhohir, belum lagi yang bersifat bathin, begitu juga dengan larangannya Alloh. Jadi untuk mencapai taqwa itu sulit, mudah-mudahan saja kita mendapat pertolongan dari Alloh.
Dan Nabi Muhammad s.a.w juga pernah dawuh bahwa taqwa itu didalam hati.
AT TAQWAA HA HUNAA
AT TAQWAA HA HUNAA
AT TAQWAA HA HUNAA
Taqwa itu disini, Taqwa itu disini, Taqwa itu disini.
… Bersambung.
Sumber: http:// jalanpincang.com

Posted on 26/04/2011, in artikel. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada BENTENG TAQWA.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: