Ayo Pertahankan Taqwa Kita

Oleh Muchamad Syihabulhaq

Beberapa langkah sudah Ramadhan meninggalkan kita, perjuangan hidup untuk sebelas bulan ke depan menyambut kita dengan berbagai rasa dan keadaan hidup. Kini insya Allah taqwa telah tersemat dalam jiwa, Ramadhan dengan kemuliaannya dan segala bentuk keutamaannya telah membina jiwa-jiwa untuk tetap mendawamkan kemuliaan-kemuliaan amalannya.

Sejuta keindahan diawal bulan yang penuh rahmat menjinakan hati untuk tetap dalam kasih sayang antar sesama orang beriman. Pertengahan bulannya sejuta limpahan ampunan Allah untuk para hamba, Ramadhan mengajarkannya untuk kita bisa mendapatkan ampunan-Nya.

Terlantun doa penuh harap disetiap hamba, “Allahumma innaka ‘afuwun, tuhibbul ‘afwa fa’fuanna”. Semoga dengan mendapatkan ampunan-Nya menjadikan kita pribadi-pribadi pemaaf, yang memang adalah karakter yang dibangun di dalam shiyam Ramadhan.

Di akhir bulannya Allah membebaskan kita dari siksa api neraka, ya oleh karenanya Ramadhan menggema oleh lantunan di setiap malamnya, “Allahumma inni as’aluka ridhoka wal jannah wa na’udzubika min sakhotika wannar”.

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”.

Ayat yang termaktub di dalam surat Al Baqarah ayat 183 ini dengan seringnya terdengar di saat bulan mulia ini hadir, namun apa yang berbekas pada diri dan jiwa kita akan ayat ini disaat bulan mulia Ramadhan telah pergi?

Ya, predikat taqwalah yang menjadi tujuan dari ayat ini, melalui sarana puasa Allah menjadikan Ramadhan untuk kita sebagai madrasah pembentukkan karakter taqwa sebagai insan Rabbaniyun.

Tiga fase Allah berikan untuk kita sebagai bentuk motivasi agar kita selalu mengejar kemuliaan-kemuliaan Ramadhan disetiap saat.

Fase rahmat di awal bulannya memotivasi kita untuk dapat saling berkasih sayang sesama orang beriman dan memang inilah karakter yang akan dibangun selama Ramadhan, tanpa adanya rasa kasih sayang yang kita berikan antar sesama orang beriman tak mungkin rahmat-Nya berpihak kepada kita.

Oleh karena itu puasa sebagai bentuk latihan kita di dalam menahan nafsyu amarah, benci, dengki, dendam dan segala bentuk penyakit hati, inilah yang diajarkan Ramadhan untuk kita. Pasca Ramadhan, apakah kita akan melupakan puasa?

Inilah yang mungkin akan kita tanyakan pada diri kita, sedangkan ia (puasa) akan datang kembali menghamipiri kita selama 6 hari di bulan Syawal yang akan senantiasa mendekatkan ia dengan kita.

Ia akan lebih dekat lagi ketika kita melaksanakan puasa Senin dan Kamis, atau puasa Ayyamul baidh (puasa di pertengahan bulan Qamariah yaitu tagal 13, 14, dan 15), puasa Arafah, puasa Asyura, bahkan Rasulullah menganjurkan kita untuk melaksanakan puasa Daud (sehari berpuasa sehari berbuka).

Di sini kita tidak gampang memang, melaksanakan puasa di bulan-bulan dan hari-hari tersebut ketimbang puasa di dalam bulan Ramadhan. Oleh karenannya kita harus memiliki motivasi yang akan menguatkan kita di dalam menjalaninya, sebagaimana motivasi kita di dalam Ramadhan.

Ayo pertahankanlah taqwa kita”, inilah yang menjadi motivasi kita. Jangan biarkan rahmat Allah yang berpihak kepada kita menjadi hilang sedikit demi sedikit dan akhirnya memecat kita dari predikat taqwa yang telah kita raih selama shiyam Ramadhan.

Fase ampunan di pertengahan bulannya memotivasi kita untuk mendekatkan diri dengan terus memohon ampun dengan mentadabburi ayat-ayat suci Ilahi sehingga mensehatkan hati kita. Al-Qur’an memberikan gizi bagi hati kita, oleh karenanya amalan ini kita dawamkan dikala shiyam Ramadhan.

Dengan mengharap syafa’atnya (pertolongannya) kelak di yaumil hisab, hati dan jiwa terus intens bertatap muka dengan ayat-ayatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw yang mengabarkan bahwa Al-Qur’an kelak di yaumil akhir akan datang memberi syafa’at bagi insan yang senantiasa menjadikannya teman hidup di dunia.

Rasulullah saw bersabda : “Puasa dan Al-Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya. ‘Sedangkan Al-Qur’an akan berkata, ‘Ya Rabbi, aku telah mengalanginya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah aku memberikan syafa’at untuknya. ‘Maka Allah swt memperkenankan keduanya memberikan syafa’at”. (HR. Imam Ahmad dan Ath-Thabrani).

Maka ketika Ramadhan berlalu, apakah amalan Qur’an kita berkurang? Maka motivasikan kembali diri kita, seandainya memang benar amalan Qur’an kita berkurang. Ayo pertahankan taqwa kita, jangan sampai ampunan yang sudah Allah turunkan untuk kita di shiyam Ramadhan justru malah berbalik jadi murka-Nya saat pasca Ramadhan, disebabkan kita lalai, lupa akan amalan yang kita dawamkan di bulan penuh ampunan tersebut.

Fase dibebaskannya kita dari siksa api neraka oleh Allah di akhir bulannya menjadi pokok utama yang memotivasi untuk terus terjaga di sepertiga malam, dengan penuh khusyuk kita rela terjaga untuk menghambakan diri dengan mensejajarkan kening kita dengan tanah, jatuh tersungkur sujud di hadapan-Nya.

Ya shalat malamlah yang menjadi sarana untuk kita lebih dekat dengan Allah, sebab disaat itulah titik terdekat hamba dengan Rabbnya. Oleh karenanya amalan ini terus kita dawamkan dikala malam-malam Ramadhan demi meraih terbebasnya kita dari siksa api neraka.

Namun yang menjadi pertanyaan hari ini, apakah kita tetap terjaga dikala malam lain datang menjumpai kita? Kalau kita menjadi terlelap dengan nyaman di hamparan empuknya tempat tidur kita di saat malam Ramadhan sudah berlalu, maka motivasikan kembali diri kita sebagaimana kita termotivasi dikala menghidupkan malam Ramadhan.

Ayo pertahankan taqwa kita, sebab malam-malam yang kita lalui dengan menghidupkannya melalui shalat malam membuat hati dan jiwa ini selalu terpaut dekat dengan Rabb Yang Merajai Hari Pembalasan.

Ayo pertahankan taqwa kita dengan selalu menjadi insan yang senantiasa beribadah kepada Allah, bukan menjadi insan yang hanya beribadah dibulan Ramadhan (kun rabbaaniyyun walaa takun Ramadhaniyyun), karena sungguh Allah itu Tuhan di seluruh waktu.

Dan tiada yang tahu kapan batas usia kita, hanya kepada-Nya kita memohon. Duhai ilahi Rabbi pertemukanlah kami selalu dengan bulan mulia-Mu, bulan Ramadhan dan jadikanlah kami hamba yang selalu menyembah-Mu sampai kepastian ajal datang kepada kami. Aamiin.

Sumber:http://www.eramuslim.com/oase-iman/muchamad-syihabulhaq-ayo-pertahankan-taqwa-kita.htm

Posted on 23/09/2011, in artikel, Puasa. Bookmark the permalink. Komentar Dinonaktifkan pada Ayo Pertahankan Taqwa Kita.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: