Ensiklopedi Islam

Allahu Akbar
Written by Abu Sangkan

A

Allahu Akbar

Setiap mukmin tentu menyadari, bahwa kita adalah makhluk yang lemah, makhluk tidak berdaya, yang tidak memiliki kekuatan apa-apa, kecuali bila kita diberi pertolongan dari-Nya. Dialah Allah Yang Maha Besar, Dialah Allah Yang Menguasai alam semesta beserta seluruh isinya. Sikap hamba yang pasrah, dengan menyerahkan dan menyandarkan segala urusan kepada Allah adalah sikap utama dalam Islam.

Dalam Islam, sikap pasrah, yang dibarengi kesadaran akan keagungan dan kebesaran Allah, disebut dengan TAKBIR; Dan simbol takbir disampaikan dengan mengucapkan kalimat ALLAHU AKBAR; yang artinya ALLAH MAHA BESAR. Kalimat Takbir terdiri dari dua kata, yaitu kata ALLAH dan kata AKBAR. Lafadz ALLAH merupakan salah satu dari nama-nama Tuhan. Asma ALLAH adalah lafadz yang disebut sebagai ISMUL’JAMI’, yang berarti nama yang mengumpulkan; artinya kalimat ini berfungsi mengumpulkan atau memuat seluruh asma-asma ALLAH yang lain. Sedangkan lafadz AKBAR, yang merupakan salah satu dari ASMAUL HUSNA adalah kata yang berbentuk TAFDIL atau SUPERLATIVE yang berarti MAHA BESAR.

Dengan mengatakan bahwa hanya Allah semata yang Maha Besar, maka secara langsung, ungkapan ini meniadakan setiap perasaan atau kesadaran diri yang merasa besar, hebat, atau apa pun. Dari TAKBIR pula menegaskan bahwa kita sama sekali diharamkan untuk sombong, angkuh atau membanggakan diri. Karena takbir berasal dari kata kabbara-yukabbiru-takbiran, sedangkan kata takabbur berasal dari kata takabbara-yatakabbaru-takabbaruran, artinya merasa paling besar atau sombong. Dan sifat ini tidak boleh dimiliki oleh manusia kecuali hanya Allah saja yang berhak untuk membanggakan dirinya atas seluruh kekuasaa Nya yang Dia ciptakan. Maka dari itu Allah menuntun kita untuk menyadari akan hal ini dengan melakukan takbir dalam shalat. Agar kita menjadi orang yang selalu merendahkan hati terhadap Allah maupun terhadap sesama.

Read more…
Bismillahirrohmanirrohim
Written by Abu Sangkan

B

Bismillahirrahmanirrahim

 

 

Bagi setiap muslim, tentu sangat akrab dengan satu lafadz yang senantiasa dibaca dalam berbagai aktivitas keseharian; lafadz tersebut adalah: BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM yang artinya “Dengan Menyebut Asma Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. Mengucapkan “Basmallah” sangat dianjurkan ketika hendak memulai suatu urusan yang baik seperti makan, hendak minum, naik kendaraan, membaca Al Qur’an dan sebagainya. Rasulullah bersabda: setiap perkara yang baik tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka dia terputus. (HR. Al Khatib) (lihat Aqimusshalah hal 215), As siraj al lMunir, jilid 3, hal 86)

Pada lafaz RAHMAN dan RAHIM, meski keduanya berasal dari Asmaul Husna; namun masing-masing memiliki titik tekan yang berbeda; RAHMAN adalah cinta kasih Tuhan untuk menjadikan sesuatu kepada hamba-hambaNya; sedangkan RAHIM adalah cinta kasih Tuhan untuk menyempurnakan segala apa yang diberikan kepada hamba-hambaNya.

Terlepas apakah Bismillah menjadi bagian dari surat Al Fatihah dalam Alquran atau tidak; kalimat Bismillahirrahmanirrahim memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ibadah shalat. Perbedaan ekspresi dalam mengucapkan Bismillah hanya pada masalah diucapkan (diartikulasikan) atau cukup di hati saja. Ada dua pendapat mengenai bacaan “bismillahirrahmanirrahim” di saat membaca surat Al Fatihah dalam shalat. Dibaca dengan suara jahar (keras) atau dibaca dengan suara sirr (pelan).

Pendapat yang membaca Basmalah dengan dijaharkan berasal dari riwayat Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah senantiasa menjaharkan Basmallah pada dua surat sampai dia wafat (HR Daruqutni); Lihat Sunan Daaruqutni, jilid 1, juz 1 hal 304).

Diriwayatkan dari Nu’man Al munir. Aku pernah Shalat dibelakang Abu Hurairah ra. Maka ia membaca bismillahirrahmanirrahim kemudian dibacanya ummul Al qur’an (surat Alfatihah) dan didalam hadist tersebut tatkala mengucapkan salam dia berkata. Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya. Sesungguhnya shalatkulah yang paling mirip dengan Rasulullah (HR. An Nasai) – Sunan An Nasai, jiid 1, juz 2, hal 134.

Pendapat kedua, membaca Basmalah dengan pelan (sirr).

Dari Anas ra. Berkata: aku dengan Rasulullah saw dengan Abu bakar, Umar dan Usman, tetapi aku tidak pernah mendengar mereka membaca “bismillahirrahmanirrahim” (HR. Imam Muslim)

Dari Anas ra bin Malik. Berkata: aku biasa Shalat dibelakang nabi saw. Di belakang Abu Bakar, Umar dan Usman. Mereka hanya memulai bacaaan dengan “alhamdulillahi rabbil ‘alamin” dan tidak pernah kudengar mereka membaca bismillahirrahmanirrahim pada awal bacaan (alfatihah) dan tidak pula pengahabisannya.( HR, imam Muslim).

Didalam ensiklopedi Nurcholis Majid hal. 362 menyebutkan, bahwa dalam shalat membaca Al Fatihah bukanlah suatu persoalan, sedangkan bismillahirrahmanirrahim termasuk di dalam surat Al Fatihah atau tidak, masih diperselisihkan. Kalau mengambil berbagai pendapat mengenai surat Al Fatihah, maka yang wajib betul dibaca dalam shalat adalah dimulai dengan “Alhamdulillah” sampai “wa la al dhallin”, sedang membaca “bismillah”-nya tidak wajib.

Read more…
Cahaya Ilahy
Written by Abu Sangkan

C

Cahaya Ilahy

 

Islam adalah agama wahyu yang diturunkan Allah untuk umat manusia. Berbagai ayat atau tanda bertebaran bukan hanya pada teks-teks Alquran tapi juga pada seluruh ciptaanNya. Allah dalam memberikan ayat-ayat Nya selalu menyajikan dengan kemasan yang sangat indah, simbolik, namun sarat makna. Dan semua itu hanya bisa dimengerti oleh hamba-hambaNya yang dibersihkan hatinya.

Di antara perlambang yang seringkali digunakan Allah adalah CAHAYA. Dalam Surat An-Nur ayat 35, Allah berfirman:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Biasanya simbol cahaya (nur) digunakan untuk merefleksikan makna hidayah atau petunjuk. Sebagaimana sinar matahari yang menerangi bumi sehingga manusia dapat melakukan banyak hal di muka bumi. Cahaya atau petunjuk dalam Islam disebut dengan HIDAYAH. Oleh Allah, setiap hamba sangat dianjurkan untuk selalu meminta hidayah kepadaNya, karena hanya Allah yang memiliki dan memberikan hidayah kepada kita. Dan cara terbaik memohon hidayah kepadaNya adalah melalui ibadah shalat.

Pada dasarnya shalat adalah satu upaya bagi hamba untuk selalu memperoleh petunjuk dan bimbingan dariNya. Karena tugas manusia sebagai khalifah adalah menjaga semesta ini, maka sesungguhnya setiap manusia selalu membutuhkan bimbingan tentang bagaimana mengolah semesta dan kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, agar memberikan kemaslahatan bagi semua pihak.

Read more…
Doa
Written by Abu Sangkan
 

D

Do’a

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina “. (QS. Al Mu’min [40]: 60).

“Doa adalah senjata orang yang beriman dan tiangnya agama serta cahaya langit dan bumi “. (HR. Hakim);

Doa adalah bentuk permohonan seorang hamba kepada Allah SWT. Doa juga menjadi salah satu cara manusia berkomunikasi dan berinteraksi dengan Sang khalik. Doa merupakan inti ibadah sekaligus menjadi senjata bagi orang-orang beriman. Doa juga menjadi kunci bagi terbukanya pertolongan Allah SWT.

Shalat adalah do’a…”, demikian menurut sebuah hadis. Ibadah shalat, yang dimulai dari takbir dan ditutup dengan salam, di dalamnya banyak memuat ungkapan-ungkapan yang mengandung pujian dan doa. Karena prinsipnya, shalat menjadi cara hamba untuk menunjukkan kebaktian dan permohonan kepada Sang Khalik.

Hakikat doa adalah penuntun bagi seseorang untuk mengubah dirinya agar menjadi lebih baik. Allah SWT berfirman dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 186,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran “.

Al Baqarah ayat 201,

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka “.

Dalam Al Quran surat Al A’raaf ayat 55 Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk berdoa dengan sikap merendahkan diri dan suara yang lembut,

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas “.

Namun, selain keharusan berdoa dengan merendahkan diri dengan suara yang lembut, kita juga harus memiliki adab dan tata cara berdoa yang benar. Yakni memelihara keyakinan di dalam hati, bahwa doa kita akan dikabulkan, bersungguh-sungguh dalam berdoa, berbaik sangka kepada-Nya, dan mengulang-ulang doa sebanyak mungkin.

Sikap doa ini telah diajarkan nabi pada waktu duduk iftirasy dalam shalat, diawali memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah kita lakukan (rabbighfirli) , memohon dikasihani (warhamni),memohon ditutup aib kesalahan diri (wajburni),memohon diangkat derajat hidup didunia dan diakhirat (warfa’ni), memohon dilimpahkan rejeki (warzuqni), memohon diberi petunjuk dan tuntunan (wahdini),memohon diberikan kesehatan lahir dan bathin (wa afini) dan memohon ampunan atas segala kehilafan (wa’fuanni).

Doa-doa ini diucapkan secara berulang-ulang memberikan dampak kepada mental dan spiritual seseorang apabila dilakukan dengan serius, bukan sekedar membaca. Mengapa demikian? Karena doa yang diucapkan dengan jelas dan diulang-ulang akan tersimpan dalam memori otak si pendoa. Apabila diniatkan oleh hatinya, akan mempengaruhi respons otak yang menghantarkan impuls listrik keseluruh syaraf otak dan seluruh tubuhnya. Kalau sudah tertanam dalam pikiran bawah sadarnya, akan bekerja secara otomatis mempengaruhi gerakan otot, tulang dan organ tubuh yang lainnya. Karena otak telah diprogram secara terus menerus berupa kata-kata positif. Dan program inilah yang menggetarkan seluruh syaraf yang mendorong sekujur tubuh dan pikirannya untuk berbuat seperti yang telah ditanamkan berulang-ulang. Karena otak merupakan motor penggerak yang memiliki jaringan listrik yang amat rumit ke seluruh anggota tubuh manusia. Motor menggerak ini bekerja atas informasi yang ditanamkan melalui data yang tersimpan dalam memori otaknya. Data ini menghasilkan gerak reflek tanpa harus dikendalikan pikiran sadarnya. Maka dari itu, mengapa shalat harus dilakukan dengan sadar dan mengerti apa yang diucapkan. Karena akan mempengaruhi gerakan perilakunya sesuai data yang ditanamkan secara berulang-ulang tersebut. Apabila didalam menjalankan shalatnya tidak dilakukan dengan serius dan tidak diinginkan oleh hatinya, maka gerakan bawah sadarnya juga akan terjadi sesuai data yang kita masukkan dalam pikiran kita, yang disebut Neuro Linguistic Programing (NLP).

Shalat telah membentuk pikiran positif yang ditanamkan berulang-ulang dalam otak , sehingga membentuk program bawah sadar menjadi karakter tubuh dan gerakan. Apabila shalat dilakukan dengan perasaan malas, maka akan tercipta secara otomatis tubuhnya menjadi malas untuk melaksanakan shalat ketika mendengarkan suara adzan dikumandangkan. Demikian pula dengan doa yang diulang-ulang. Seluruh tubuhnya akan merespons apa yang telah tertanam dalam pikiran bawah sadarnya dan mempengaruhi perilakunya. Sehingga setiap saat dorongan dalam bawah sadarnya akan berbuat seperti apa yang diinginkan dalam pikirannya. Misalnya, ketika seseorang dalam doanya ingin mempunyai rumah atau mobil. Jika niatnya ditanamkam benar-benar dari hatinya, maka otak akan merespons niat kita tersebut sehingga disimpan dalam memori.

Dari memori terjadi pemrograman yang akan menggerakkan seluruh syaraf pada otak. Dan syaraf akan mengendalikan tubuh untuk berbuat secara otomatis untuk meraih apa yang dicita-citakan. Disamping itu, gelombang pikiran otak akan selalu bergetar yang dihantarkan oleh gelombang elektromanetik yang akan memancarkan energi keseluruh alam. Getaran pikiran ini akan selalu memancar tanpa henti menembus tanpa halangan. Sehingga dengan mudah pikiran kita ditangkap oleh pikiran yang memancar pula dari pihak yang lain tanpa disadarinya. Dan terjadilah proses hukum alam saling bertemu dalam gelombang yang sama. Pikiran positif akan bertemu dengan pikiran positif, dan pikiran negatif akan bertemu dengan pikiran negatif. Inilah yang dimaksudkan dengan The Law Of Atraction.

Di dalam berdoa, disamping pengaruhnya terhadap mental dan tubuh, juga terjadi hubungan khusus dengan Sang Maha Pencipta. Ketika sesesorang memanjatkan doanya, ruhaninya menembus tertuju kepada pusat energi yang paling tinggi, yaitu Allah Swt. Dengan melakukan doa secara khusus dan penuh keyakinan, sesungguhnya ia sedang meraih energi Tuhan yang selalu terpancar kepada jiwa orang yang mendekati-Nya. Energi Tuhan,hanya bisa turun kepada hati yang pasrah dan merendahkan diri. Kekuatan pasrah akan menghasilkan intuisi dan kecerdasan spiritual yang luar bisa.

 

Esa
Written by Abu Sangkan

E

Esa

 

Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Dialah Tuhan seluruh makhluk, dan tiada sekutu bagiNya. Dalam Al Quran surat Ali ‘Imran ayat 18 disebutkan:

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “.

Pengakuan hamba terhadap keesaan Allah SWT tertuang dalam kalimat tauhid Laa ilaaha ilallah, yang berarti tidak ada sesuatu (tuhan) yang berhak disembah kecuali Allah.

Dikisahkan dalam Hadis Riwayat Bukhari, dan Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Mu’adz bin Jabal ra,

“Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah “.

Satu sikap penting dalam ibadah shalat adalah pengesaan seorang hamba akan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah. Ungkapan ini dirangkum dalam dua kalimat syahadat yang selalu dibaca ketika dalam posisi tasyahud; baik tasyahud awal atau pun pada tasyahud akhir.

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui “. (QS. Al Baqarah [2]: 21-22).

Definisi ESA (tauhid) menurut bahasa adalah mengetahui bahwa sesuatu (Tuhan) itu satu. Sedangkan secara umum, tauhid dipahami sebagai pengesaan Allah SWT. Agar dalam mengabdi kepada-Nya tidak menduakan-Nya.

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan satu jua pun dalam beribadat kepada Tuhannya. “. (QS. Al Kahfi [18]: 110).

Read more…
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>
Page 1 of 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: